Sabtu, 21 November 2015

ketertinggalan harus di lawan



KAMI HANYA INGIN MELAWAN ARUS KETERTINGGALAN DENGAN PRESTASI









Daerah pedalaman merupakan salah satu wujud dari ketertinggalan suatu daerah. Sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat daerah pedalaman dengan kondisi yang serba terbatas. Berkaitan dengan infrastruktur jalan/transportasi misalnya, untuk berpergian ke tempat kerja (kebun, sawah, ladang, pantai), ke sekolah, ke pasar, dan ke rumah kerabat, berjalan kaki merupakan alternatif utama, selain bersepeda maupun menggunakan motor. Belum lagi jika harus berurusan ke ibukota kabupaten atau daerah lainnya, melewati daerah pegunungan, perbukitan, sungai atau jalanan setapak yang tak beraspal sudah merupakan lintasan keseharian mereka. Sedangkan berkaitan dengan fasilitas listrik/ penerangan, jangankan untuk bisa menikmati tontonan sinetron atau film layar lebar di TV, kelap kelip lampu di malam hari saja merupakan hal yang asing bagi sebagian besar dari mereka.
Fasilitas layanan umum, seperti pendidikan dan kesehatan juga demikian, kalaupun tersedia sekolah dan pos kesehatan desa (poskesdes) di sekitar mereka, namun sudah menjadi pemandangan yang lazim dijumpai bahwa keberadaan fasilitas tersebut hanya “formalitas” belaka, jauh dari kelayakan. Begitupula ketersediaan tenaga guru dan pelayan kesehatan (dokter/bidan), selain jumlahnya tidak sebanding dengan beban tugas yang harus mereka emban, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan mereka pun, kurang mendapatkan perhatian.
Kondisi ini diperparah lagi dengan kondisi infrastruktur ekonomi, seperti pasar, terminal, dermaga/tambatan kapal yang memprihatinkan serta aktivitas investasi, produksi dan pemasaran yang kadang tidak berpihak kepada masyarakat pedalaman. Pasar dan infrastruktur ekonomi lainnya terkadang dibangun hanya berorientasi “proyek”, sehingga masyarakat sekitar tidak mendapatkan nilai tambah (impact dan benefit) atas keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut. Aktivitas ekonomi juga demikian, karena keterisolasian dan kurangnya akses terhadap informasi, masyarakat pedalaman selaku pelaku ekonomi utama (petani/nelayan) terkadang hanya menjadi “barang mainan” para tengkulak yang seenaknya mempermainkan harga dan menggunakan kelebihan modalnya untuk menindas mereka.
Akibat dari semakin berlarutnya kondisi ini maka wajarlah kemudian urbanisasi menjadi sesuatu “tradisi” yang sulit dihindari, karena sebenarnya sudah menjadi kodrat manusia untuk tidak pernah puas, apalagi jika terus-menerus berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Masyarakat pedalaman juga memiliki hak yang sama dengan masyarakat Indonesia lainnya, yaitu mendapatkan penghidupan yang layak dan sejahtera.
Berdasarkan fenomena ini, menjadi suatu perkara yang sulit untuk membebaskan daerah pedalaman dan pinggiran kota dari ketertinggalan. Karena selain realitasnya sudah demikian, mungkin juga dikarenakan beberapa pihak telah “sengaja” melakukan pembiaran atau “merekayasa” kondisi ini tetap seperti itu, berharap mengambil keuntungan pribadi atas ketertinggalan tersebut, atau mungkinkah ini merupakan bukti kegagalan pemerintah dan otonomi daerah di Indonesia selama ini?
Kesimpulan singkat dari catatan panjang kami ini adalah Agar penduduk yang tinggal di daerah pedalaman dan perbatasan  yang  terpencil tidak semakin tertinggal oleh perkembangan zaman maka perlu diberikan pendidikan yang berkualitas. Tidak hanya pendidikan, juga pelatihan serta ketrampilan dengan didukung dengan sarana dan prasarana yang menunjang. Dengan demikian tidak ada lagi yang namanya daerah tertinggal,terbelakang ataupun tertindas. Karena semua berhak mendapat pendidikan yang merata. Kita jangan hanya menyalahkan pemerintah terus menerus seakan-akan pemerintah tidak ada tanggung jawabnya. Seharusnya kita sebagai generasi penerus dan perubahan. lalu bagaimana mengubah semua ini, dengan cara apakah mengubahnya?
Jawaban nya yaitu dengan cara berbagi ilmu dan pengalaman serta sedekah dengan apa yang kita miliki saat ini. Catatan inilah yang mendorong dongeng ceria management (DCM) untuk selalu melakukan aksi berbagi untuk anak-anak di daerah pedalaman sana, agar mereka tetap bisa tumbuh berkembang dengan senyum manis masa kecil  yang tetap ada di pipi nya. Merteka tetap bisa berbahagia menikmati keindahan hidup ini. Kita jangan hanya mengutamakan kebahaigaan anak-anak di perkotaan sahabat karena di pedalaman sana ribuan bahkan ratusan anak-anak menunggu untuk di sapa, menunggu untuk kita datang dan berbagi walaupun hanya berbagi “SENYUM” itu sudah merupakan suatu kebahagiaan yang tak terhingga bagi mereka.
Jangan mau ketinggalan teman, tunjukan aksi mu, ikuti terus petualang kami, dan mari bersama bahagiakan anak-anak di daerah pedalaman.
Salam ceria untuk anak Indonesia,, Peduli pendisikan yatim seribu pulau
Bercerita dengan cinta menanamkan akhlak mulia


Admin elf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar